Sepulang sekolah. Seperti biasa Saskia sempatkan diri sebentar memandang ke arah tengah jalan. Tampak wajah tua penjaga sekolah dengan tongkat dan benderanya menahan laju kendaraan. Sebagai tanda mahasiswa-mahasiswi Universitas Mentari Hati (UMH) boleh menyeberang.
Yang menjadi fokus perhatian Saskia adalah wajah penjaga itu yang selalu pucat dan seperti menahan sakit. Dan sesenggukan menangis. Selalu begitu setiap membantu teman-teman Saskia menyeberang ke seberang jalan sana.
“Sas, sedang apa, melamun?” Reiza, kakak kelas Saskia. Tiba-tiba saja membuyarkan lamunannya.
“Ah, nggak kok Rei. Yuk nyeberang. Mumpung masih hijau,” sambil mengalihkan pembicaraan. Saskia pun mengiyakan Rei, kakak kelasnya di Sasindo (Sastera Indonesia).
Saskia mengikuti langkah Rei. Namun ketika persis melewati penjaga kampus tersebut. Saskia memperlambat langkahnya untuk memperhatikan lamat-lamat wajah tua pucat yang menangis. Tanpa sadar dari arah kiri Saskia. Tiba-tiba entah bagaimana muncul mobil berkecepatan tinggi. Dan persis Saskia saat itu tidak sempat menyadari. Malang mobil itu pun menyerempet Saskia.
“AWAS SAS!...” teriak Rei.
“BUUM!”
“Astaghfirullah...!” teriakan histeris meramaikan kejadian itu. Saskia pun terpental beberapa meter. Lalu menabrak kios koran & majalah.
***
“Aduh... kepalaku...” ujar Saskia yang tiba-tiba saja bangun.
“Dok... dok... pasien Saskia bangun,” teriak seorang perawat keluar ruangan.
Rei yang sedang duduk diluar kamar pasien pun spontan masuk ruangan. Lalu dokter pun memasuki ruangan dan memeriksa Saskia. Menurut dokter. Luka Saskia tidak begitu parah. Beruntung ketika terlempar dia menimpa tumpukan kertas koran dan majalah di kios dekat kampus. Sehingga benturannya tidak berarti sama sekali.
“Untung ya kamu, coba kalo kamu jatuhnya menimpa tukang bakso atau tukang pangs... ADUH!” belum selesai cubitan sudah bersarang di pinggang Rei.
“Ini pasti gara-gara kamu ngelamunin aku ya,”
“Auh ah...,”
“Ayo ngaku... “
“ADUH... idih nyubit-nyubit bukan muhrim, eh mahromnya tau,”
“Gantian... “ sambil jari Rei siap-siap nyubit lagi.
“Aku tadi mikiran si penjaga itu. Iya, bener. Habis aku...,”
“Oh penasaran, mau tau ceritanya?” ujar Rei yang seolah-olah membaca pikiran Saskia.
“Iya gimana coba. Udah ah, nyubitnya udah impas. Cepetan cerita. Keburu bete nih. Orang sakit khan cepet bete,” Saskia tiba-tiba pasang muka cemberut. Sambil matanya melirik ke arah Rei.
Melihat gelagat begitu Rei paham benar dengan sifat Saskia yang sudah dikenalnya sejak kecil. Teman bermain bersama. Satu SD, SMP lalu SMU. Dan satu kampus pula. Meski usia mereka berdua berbeda terpaut satu tahun. Rei sudah menganggap Saskia sebagai adiknya. Begitu pula Saskia pada Rei. Maklum selain mereka tetangga bersebelahan rumah. Mereka masing-masing adalah anak semata wayang di keluarga mereka masing-masing.
“Aku juga dapet cerita ini dari teman seangkatan di kelasku yang ternyata tinggal dekat rumah penjaga sekolah itu...,”
Rei sambil membetulkan posisi duduknya persis di tepi tempat tidur pasien. Sedang Saskia sambil berbaring. Membalikkan badannya kearah Rei.
“Penjaga sekolah itu bernama Pak Ahza. Lengkapnya Ahza Fazaqa. Dia pernah kuliah juga dikampus kita. Malah di jurusan yang sama, Sasindo. Bahkan dizamannya dia termasuk mahasiswa teladan diangkatannya. Sampai suatu saat...,”
“Kenapa dia Rei? Bapak itu kenapa?” Saskia berhasil dibuat penasaran sejenak oleh cerita Rei.
“Dia bersyukur dan sangat bersyukur pada Allah. Setelah wisuda sarjana dengan nilai terbaik. Seolah mendapat hadiah dobel dari Allah. Dia pun dapet jodoh pula. Di jodohi ustadznya yang ternyata jodohnya itu justru seorang wanita pujaan yang satu jurusan. Tapi beda angkatan. Adik kelas gitu,”
“Oh kayak kita gitu,”
“Iya,”
“Terus, seneng dong. Sudah lulus. Dapat jodoh pula. Wah dobel gitu khan jarang-jarang. Aku juga pengen gitu,” Saskia sambil senyam-senyum sendiri. Sambil sesekali melirik ke arah Rei. Tapi Rei masih serius dengan cerita.
“Iya seneng...”
“Huh... dasar cowok rese, cuek, dingin,” bisik Saskia dalam hati sambil cemberut. Rei sambil menahan senyumnya, tanda paham kalau Saskia sedang menggerutu dalam hatinya.
“Pak Ahza muda saat pulang wisuda. Bersama calon istrinya yang adik kelas itu pun mengajak wanita pujaan hatinya ke seberang kampus untuk sebuah kejutan. Tapi terjadi sesuatu yang diluar dugaan mereka berdua. Ketika ditengah jalan. Persis di tempat pak penjaga berdiri mengatur lalu lintas. Calon isterinya jadi korban tabrak lari. Mirip sekali kejadiannya dengan kamu tadi. Bedanya calon isterinya Pak Ahza muda, langsung meninggal ditempat. Karena kehabisan darah.”
“Oh, jadi trauma itulah yang terus menghantui sepanjang hidupnya hingga hari ini. Sehingga kalau sedang momennya berdiri di tengah jalan itu. Bapak itu pasti tampangnya pucat sekali, menahan sakit lalu menangis kecil. Sesenggukan. Lalu, kenapa....”
“Tepat sekali. Dulu sudah berkali-kali pernah dicoba oleh beberapa psikiater, bahkan ahli hipnosis. Tapi tidak berhasil untuk disembuhkan,” Rei seolah membaca pikiran Saskia.
“Kasihan bapak itu ya Rei. Eeem... terimakasih ya Rei tadi sudah menolong aku. Dikecelakaan tadi. Kalau saja tidak buru-buru ditolong. Aku bisa jadi seperti calon isterinya Pak Penjaga muda ya Rei. Makasih Rei kamu memang sahabatku yang terbaik. Nanti aku akan...,”
“Bukan aku tadi yang menolong dan membawa kamu kesini Sas,”
“Hah, bukan kamu? Serius? Lah, jadi siapa?”
Bulu kuduk dan kulit Saskia pun spontan saja merinding. Mendengar kata-kata Rei itu.
“Bapak penjaga... dia itu yang spontan menolong. Membawa kamu kesini. Geraknya cepat sekali. Aku saja malah sempet shock berat beberapa menit ketika melihat kamu tertabrak dan terpental gitu. Pikiran dan perasaanku kacau sekali Sas, saat itu. Blank banget. Karena merasa orang yang sangat dekat dengan ku tiba-tiba bisa begitu. Bahkan aku saat itu sampai merasakan akan kehilangan kamu. Dan... sepertinya sulit melepaskanmu. Maafkan aku Sas, tadi tidak sempat menolong kamu...”
“Ooh...,”
Mata Saskia tiba-tiba berkaca-kaca. Seperti ada yang tertahan dihatinya hendak dia muntahkan. Seperti juga ada desiran arus hangat yang ingin meledak keluar di kedua matanya.
“Ini...,”
Rei, memberi sesuatu ke Saskia.
“Bapak itu sebelum pulang dari sini tadi. Memberi sesuatu ke kamu. Katanya inilah, sesuatu yang pernah ingin dia berikan sebagai kejutan. Di hari naas meninggal calon isterinya itu.”
“Apa ini?”
“Buka aja, disitu ada secarik kertas juga katanya. Lusuh sekali. Sudah hampir 15 tahunan sejak kejadian itu. Tapi masih awet tersimpan di saku bajunya,”
Saskia membuka bingkisan seukuran kotak sabun. Karena penasaran, sedikit terburu-buru, secarik kertas terjatuh. Dibaca mereka berdua:
Untuk bidadariku. Jangan terbang tanpa aku. Karena aku malaikatmu
Untuk bidadariku. Jangan pergi meninggalkanku. Karena aku penjagamu
Untuk bidadariku. Akulah malaikat penjagamu. Guardian Angel kamu.
Untuk bidadariku. Ini aku bawakan sayapku untuk kamu terbang. Bukalah...
Lalu Saskia membuka, kota kecil itu. Ketika dibuka...
“ASTAGFIRULLAH...” mereka berdua terkejut bersamaan. Melihat isi kotak tersebut yang berisi sayap untuk terbang berupa SEPASANG CINCIN.
by Reiza Dreamhigh (레이자 드림하이)
Pkl. 23.00. 30 Oktober 2017. Bumin Allh Pamulang. Tangsel, Banten.
#ywc
#gtc